Home / Berita Bola / Piala Konfederasi sebagai Uji Kesiapan Sebelum Piala Dunia
Agen Casino Online

Piala Konfederasi sebagai Uji Kesiapan Sebelum Piala Dunia

Piala Konfederasi sebagai Uji Kesiapan Sebelum Piala Dunia

JagoBola – Jakarta – Piala Konfederasi FIFA 2017 akan dimulai akhir pekan ini (17/06) di Rusia. Sebagai pemanasan Piala Dunia 2018 yang masih satu tahun lagi, Piala Konfederasi sudah dikenal sebagai turnamen persiapan Piala Dunia yang juga dilaksanakan empat tahun sekali.

“Piala Dunia mini” ini diikuti oleh enam negara peserta yang masing-masing mewakili juara konfederasi mereka (juara AFC, CAF, CONCACAF, CONMEBOL, OFC, dan UEFA) serta satu negara tuan rumah dan satu juara bertahan Piala Dunia. Total delapan negara ini dibagi ke dalam dua grup.

Sejujurnya, gaung Piala Konfederasi tidak pernah sekencang Piala Dunia yang berisi 32 negara (akan menjadi 48 negara nantinya). Banyak pula orang yang menganggap turnamen ini tidak terlalu penting, bahkan tidak jarang siaran langsung Piala Konfederasi sepi penonton.

Akan tetapi, banyak faktor yang menganggap Piala Konfederasi memiliki andil penting untuk kesuksesan Piala Dunia satu tahun berikutnya, karena kompetisi ini menjadi ajang uji kesiapan negara tuan rumah dalam menyelenggarakan Piala Dunia.

Beberapa ujian yang harus dihapapi oleh negara tuan rumah adalah uji infrastruktur, transportasi, cakupan media, budaya, akomodasi, keamanan, dan masih banyak lagi, sehingga mereka akan siap atau setidaknya tidak terlalu kaget ketika menyelenggarakan Piala Dunia di tahun berikutnya.

Dalam kesempatan kali ini, melalui beberapa dukungan dari jurnal ilmiah, saya akan membahas lebih dalam mengenai uji infrastruktur dan transportasi Rusia dalam menghadapi Piala Dunia melalui Piala Konfederasi 2017.

Infrastruktur Bukan Hanya Stadion dan Sekitarnya

Dari 12 stadion yang terbagi ke dalam 11 kota penyelenggara yang akan dilibatkan di Piala Dunia tahun depan, empat di antaranya akan dijui di Piala Konfederasi tahun ini. Keempat kota tersebut adalah Moskow (Otkrytiye Arena atau Stadion Spartak), Saint Petersburg (Stadion Krestovsky atau Stadion Saint Petersburg), Kazan (Kazan Arena), dan Sochi (Stadion Olimpiade Fisht).

Empat stadion di atas sudah siap digunakan dan sudah dites untuk Piala Konfederasi kali ini. Sementara delapan sisanya masih dalam tahap konstruksi (enam stadion) dan juga renovasi (dua).

Menurut Alexander Djordjadze sebagai Direktur FIFA dan Relasi Pemerintah di Komite Organisasi Lokal (LOC) Piala Dunia Rusia 2018, kesemua stadion tersebut akan siap dipakai pada Desember 2017.

Piala Konfederasi sebagai Uji Kesiapan Sebelum Piala DuniaGambar 1 – Peta persebaran stadion dan infrastruktur transportasi untuk Piala Dunia 2018 – Sumber: Russian Analytical Digest No. 150, 25 Juni 2014

Namun, kesiapan infrastruktur ini bukan hanya stadion. Penonton tidak hanya tiba-tiba datang untuk menonton, dan kemudian menghilang. Mereka tentunya datang menggunakan moda transportasi dengan fasilitas umum, tinggal di penginapan, berbelanja di pertokoan, makan dan minum di restoran, dan lain sebagainya.

Rantai transportasi internasional, nasional, regional, dan lokal juga harus disiapkan karena akan mengalami puncaknya pada waktu-waktu tertentu, sehingga fasilitas transportasi terutama bandara membutuhkan penambahan kapasitas (sebaiknya temporer).

Faktor keamanan juga penting dengan pelancong yang datang sebanyak itu. Permintaan akan akomodasi seperti hotel dan penginapan juga meningkat. Belum lagi kesulitan mereka melakukan prediksi perjalanan tambahan karena tim yang lolos akan bermain di kota-kota tertentu di babak selanjutnya.

Cakupan media yang luas juga menjadi pertimbangan karena turnamen ini akan menjadi pusat perhatian dunia.

Menurut laporan Logistic Concept for the FIFA World Cup 2018 in Russia, empat kota yang menjadi penyelenggara Piala Konfederasi adalah empat kota yang tingkat permintaan transportasi dan akomodasinya paling tinggi di antara kota-kota penyelenggara lainnya.

Sochi dan Kazan adalah dua kota yang paling siap menyelenggarakan Piala Dunia karena keduanya pernah menyelenggarakan acara besar olahraga. Olimpiade musim dingin diselenggarakan di Sochi (2014) dan World Student Games di Kazan (2013). Sementara Moskow adalah ibu kota Rusia dan Saint Petersburg merupakan salah satu kota terbesar di Eropa.

Hal ini yang membuat pentingnya Rusia berinvestasi pada infrastruktur dan transportasi di Piala Dunia nanti, yang terlebih dahulu akan diuji pada Piala Konfederasi mulai akhir pekan ini.

Skema Pengembangan Infrastruktur dan Transportasi di Rusia

Ada tiga skema utama transportasi antarkota penyelenggara Piala Konfederasi maupun Piala Dunia, yaitu jalur udara, rel kereta, dan jalan raya.

Dengan pertimbangan waktu tempuh, perjalanan antarkota penyelenggara di Rusia akan memakai transportasi melalui jalur udara dan rel kereta saja. Rata-rata perjalanan antarkota penyelenggara di Rusia sendiri adalah satu sampai dua jam jika menggunakan pesawat, kemudian bisa menjadi lebih dari 24 jam jika menggunakan kereta api, seperti misalnya dari Moskow ke Sochi yang memakan waktu perjalanan 26 jam menggunakan kereta api.

Hal ini membuat Kementrian Transportasi Rusia memfokuskan investasi pada transportasi udara (bandara) yang merupakan investasi yang lebih bijaksana daripada transportasi berbasis rel kereta ataupun jalan raya.

Salah satu tantangan terbesar dari transportasi adalah untuk secara temporer mengatur permintaan lalu lintas yang sangat memuncak di antara bandara kota penyelenggara, pusat kota, dan stadion penyelenggara.

Stadion, pusat kota, dan area fan (fan zone) memiliki dukungan transportasi yang krusial untuk menjaga intensitas lalu lintas untuk selain warga sekitar dan juga pelancong lainnya yang bukan datang karena niat ingin menonton pertandingan sepakbola. Rencana mobilitas kota penyelenggara harus bisa memenuhi semua aspek di atas.

Piala Konfederasi sebagai Uji Kesiapan Sebelum Piala DuniaGambar 2 – Konsep kedatangan pengunjung pada rencana Piala Dunia Dunia 2018 di Rusia – Sumber: Seminar Philippe H. Bovy mengenai “TRANSPORT PLANNING for FIFA-2018 in Russia”

Karena kebutuhan infrastruktur dan transportasi ini, anggaran Rusia untuk Piala Dunia membengkak menjadi 638,8 miliar rubel (10,8 miliar dolar AS atau 143,7 triliun rupiah).

Menurut laporan Martin Müller dari Universität Zürich, 51% pengeluaran dilakukan untuk kebutuhan transportasi dan 26% untuk infrastruktur, dengan 51% anggaran berasal dari federal, 34% dari sektor privat, dan sisanya dari regional.

Anggaran ini terlampau tinggi dan sebenarnya bisa dikurangi. Para peneliti di SEO Economic Research, Amsterdam, Belanda, sempat melakukan fomulasi jika saja setiap penduduk mau menyumbang 9 euro (Rp 133.600), maka masalah-masalah anggaran ini bisa saja tertutupi.

Namun, tidak semua permasalahan anggaran berasal dari sumber pendanaannya, melainkan dari pelaksanannya juga. Jurnalis olahraga Rusia, Igor Rabiner, sempat membuat laporan perbandingan harga fasilitas di Rusia dengan di Jerman (yang mana kebanyakan fasilitas di Rusia adalah carbon copy dari Jerman).

Pada laporannya, pengeluaran Rusia bisa dua kali lebih besar daripada Jerman (yang juga pernah menyelenggarakan Piala Dunia 2006). Hal ini disebabkan oleh organisasi yang buruk dan juga korupsi.

Temuan Rabiner diamini oleh laporan World Bank pada 2014, yang menunjukkan jika angka korupsi dan penyalahgunaan anggaran di Rusia dan juga Qatar (sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022) adalah dua yang terbesar di dunia.

Namun, Djordjadze berkata jika maksud Rusia untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia bukanlah karena faktor uang.

“Untuk Rusia, kami berpendapat jika Piala Dunia bisa menjadi kesempatan untuk menunjukkan kepada dunia bahwa ini adalah Rusia yang baru. Ini juga menjadi kesempatan untuk mengembangkan infrastruktur. Di kota-kota penyelenggara, investasi besar akan dilakukan oleh pemerintah kepada bandara, rel kereta, sistem komunikasi, dan infrastruktur olahraga seperti stadion. Itu semua adalah bagian dari warisan Piala Dunia,” katanya.

Tantangan bagi Negara Berkembang

Berbicara soal warisan (legacy) acara-acara olahraga seperti Piala Dunia, Olimpiade, Asian Games, sampai yang sekelas Pekan Olahraga Nasional (PON), salah satu warisan terbesar dari itu semua memang adalah infrastruktur dan transportasi.

Kita sudah mendapatkan contoh bagaimana tidak efisiennya pemerintahan Afrika Selatan dan Brasil. Jika bukan karena Piala Dunia, investasi-investasi terhadap infrastruktur dan transportasi tidak akan segencar itu.

Bagaimanapun, area-area yang menjadi fokus pengembangan infrastruktur dan transportasi (kota-kota penyelenggara) adalah area yang mendapatkan keuntungan paling besar.

Meskipun begitu, aspek turisme dari penyelenggaraan Piala Dunia tidak berdampak sepositif itu. Afrika Selatan dan Brasil memiliki pendapatan dari turis yang kembali ke negara mereka masing-masing hanya 10% dan 2,5%.

Masalah lainnya, investasi yang besar terhadap infrastruktur dan transportasi di negara-negara berkembang tidak akan maksimal dalam jangka panjang setelah acara olahraga selesai. Jika mereka hanya bicara efisiensi dan efektifitas (bukan kebanggaan negara dan politik), uang-uang tersebut sebaiknya diinvestasikan untuk pendidikan dan kesehatan, yang merupakan dua sektor yang sangat penting di negara-negara berkembang.

Banyak stadion menjadi terlalu besar untuk digunakan dengan dana yang efisien setelah Piala Dunia. Jika kesebelasan (yang berada di kota penyelenggara) tidak bisa melakukan maintenance, fasilitas akan terbengkalai. Begitu juga bandara yang menjadi terlalu besar setelah Piala Dunia, padahal traffic setelah Piala Dunia tidak lagi tinggi.

Apalagi jika ini dikombinasikan dengan perilaku korupsi dan ketidakefisienan pemerintah, maka keuntungan investasipun akan cepat menyublim.

Piala Dunia memang memaksa negara untuk berinvestasi pada infrastruktur dan transportasi. Itu adalah konsekuensi yang sudah muncul ke permukaan dari awal mereka mencalonkan diri menjadi tuan rumah Piala Dunia, seperti yang pernah Indonesia lakukan juga.

Jika perkiraan investasi tersebut tidak bisa terlihat jelas, maka sudah menjadi peran bagi Piala Konfederasi untuk bertindak sebagai uji kesiapan infrastruktur dan transportasi tersebut. Uji kesiapan tersebut kebanyakan mengalami kegagalan bukan pada saat Piala Dunia di satu tahun berikutnya, tapi justru setelah Piala Dunia itu selesai.

Kecuali jika disebutkan di tulisan, semua data didapatkan dari jurnal-jurnal di bawah ini:
• Antonov A, Nadmaeva T, (2013) FIFA World Cup 2018 – the Planning Challenge for Russian Cities, REAL CORP, ISBN: 978-3-9503110-4-4.
• De Aragao M, (2015) Economic Impacts of the FIFA World Cup in Developing Countries, Honors Theses, Paper 2609.
• De Nooij M, Van den Berg M, Koopmans C, (2010) Bread or games? Social cost-benefit analysis of the World Cup in the Netherlands, SEO Economic Research.
• Müller M, (2014) Event seizure: the World Cup 2018 and Russia’s illusive quest for modernisation, Universität Zürich Working Paper.
• Müller M, Wolfe S, (2014) World Cup Russia 2018: Already the Most Expensive Ever?, Russian Analytical Digest No. 150, 25 June 2014.
• Orttung R, (2014) The Legacy of the Sochi Olympics, Russian Analytical Digest No. 150, 25 June 2014.
• Pereira L, De Albuquerque M, Portugal L, (2014) Access of Wheelchair Users in Sportive Mega Events: The Case of Confederation Cup, Social and Behavioral Sciences Volume 162, 19 December 2014, Pages 148-157,

• Pereira R, Camarra M, Ribeiro G, Filimonau V, (2017) Applying the facility location problem model for selection of more climate benign mega sporting event hosts: A case of the FIFA World Cups, Journal of Cleaner Production Volume 159, 15 August 2017, Pages 147–157, 
• Swart K, George R, Cassar J, Sneyd C, (2017) The 2014 FIFA World Cup™: Tourists’ satisfaction levels and likelihood of repeat visitation to Rio de Janeiro, Journal of Destination Marketing & Management (2017),

Post By : JagoBola.com

Agen Poker Terbaik

About jagoanbola

Check Also

Madrid Banderol Ronaldo 175 Juta Poundb

Madrid Banderol Ronaldo 175 Juta Pound Madrid, JagoBola – Kesal dengan Manchester United, pihak Real ...