Home / cuplikan / Cuplikan 10 Momen Menentukan Dan Tak Terlupakan Di Final Liga Champions Terbaik Sepanjang Masa
Agen Casino Online

Cuplikan 10 Momen Menentukan Dan Tak Terlupakan Di Final Liga Champions Terbaik Sepanjang Masa

Cuplikan 10 Momen Menentukan Dan Tak Terlupakan Di Final Liga Champions Terbaik Sepanjang Masa

JagoBola.com – Trofi terbaik di Eropa akan diperebutkan juara Italia Juventus dengan juara Spanyol Real Madrid di Cardiff, Wales pada hari Minggu (4/6) dini hari WIB.

Kedua klub punya sejarah yang kuat di Liga Champions. Real Madrid merupakan juara bertahan dan ini kesempatan besar bagi mereka untuk pertama kali dalam sejarah Liga Champions berhasil mempertahankan kemenangan. Sedangkan Juventus terakhir kali memenangkan trofi ini pada tahun 1996.

Duel dua klub disebut-sebut berpeluang menjadi yang terhebat dalam satu dasawarsa terakhir. Sebagai pembanding penilaian sebaik apa duel Juventus vs Real Madrid nanti, perlu sedikit menengok final Liga Champions terbaik hingga saat ini.

Liga Champions memang selalu mencatatkan sejarah, tetapi beberapa final kompetisi ini benar-benar sulit untuk dilupakan karena dipenuhi dengan tensi, atmosfer, semangat dan tentu drama. Mungkin beberapa dari Anda tidak setuju karena punya final Liga Champions terbaik sendiri yang sulit dilupakan, tetapi penilaian kami final-final ini memang luar biasa.

1. Liverpool 3-3 Milan (2004-05) – Liverpool menang adu penalti

 

Naratif: Istanbul 25 Mei 2005. Anda pasti belum melupakannya. Perlukah diceritakan lagi?

Momen menentukan: Tiga gol balasan Liverpool hanya dalam rentang enam menit tentu sangat menentukan. Namun aksi heroik Jersey Dudek menggagalkan dua peluang Andrei Shevchenko di mulut gawang jelang laga berakhir menjadi momen penentu yang barangkali jauh lebih krusial. Peluit akhir dan meluapnya euforia, ketegangan serta emosi menjadi klimaks “malam Istanbul”.

2. Manchester United 1-1 Chelsea (2007-08) – MU menang adu penalti

 

Narasi: Jose Mourinho datang ke Chelsea setelah memenangkan Liga Champions bersama Porto. Harusnya dia yang memimpin Chelsea ke final kompetisi Eropa, tetapi kontraknya putus pada bulan Desember dan tugasnya diteruskan Avram Grant.

Grant melakukan apa yang tidak dilakukan Mourinho pada era pertamanya di Stamford Bridge, mencapai final UCL. Tetapi saat itu Manchester United luar biasa dengan trio Cristiano Ronaldo, Wayne Rooney, dan Carlos Tevez.

Pertandingan benar-benar sengit, kedua tim menampilkan performa terbaiknya, Ronaldo membuka skor pada babak pertama dan di balas Lampard dua menit sebelum turun minum. Skor tersebut berakhir hingga dua babak extra time.

Tak diduga Ronaldo gagal mengeksekusi penalti, tetapi John Terry juga gagal dan kemudian Nicholas Anelka juga gagal sebagai penendang keenam.

Momen menentukan dan tak terlupakan: Terpelesetnya John Terry saat mengeksekusi penalti menjadi momen yang sangat menentukan. Tekanan berbalik pada Chelsea hingga kegagalan Anelka menjadi momen terakhir hilangnya mimpi juara The Blues.

3. Milan 4-0 Barcelona (1993-94)

 

Narasi: Peluang Milan untuk menang tipis sebenarnya. Ibarat United tanpa Keane dan Scholes, Milan kehilangan Van Basten, Baresi dan Costacurta bahkan Lentini pun cadangan. Pundit mengatakan ini akan mudah bagi Barcelona. Tetapi, hasilnya malah kebalikannya.

Momen tak terlupakan: Dejan Savićevic mencetak gol tendangan lob indah ke gawang Andoni Zubizarreta.

4. Manchester United 2-1 Bayern Munich (1998/99)

 

Narasi: Mampukah Manchester United? Ini pertanyaan yang muncul ketika mereka ke final 1998/99 usai kalah dari Tottenham Houtspur pada hari terakhir liga. Newcastle sedikit memberikan perlawanan di FA Cup sedangkan Keane dan Scholes absen.

Bayern dan Manchester United sudah bertemu di fase grup dan pertandingan berakhir imbang. Pertandingan final ini sebenarnya tak seseru duel kedua tim di fase grup. Namun drama di laga ini membuat final ini masuk kategori tak terlupakan.

Momen menentukan dan tak terlupakan: Mario Basler membawa Bayern memimpin di menit keenam dan bertahan hingga menit 90. Pada menit 91 Teddy Sheringham menyamakan gol dan dua menit kemudian Ole Gunnar Solskjaer memastikan kemenangan Manchester United.

5. Real Madrid 1-1 Atletico Madrid (2015-2016)- Real menang adu penalti

 

Narasi: Sekali lagi dua klub ibu kota Spanyol ini bertemu di final Liga Champions dan sekali lagi pula Atletico Madrid harus kecewa dan ini lebih menyakitkan lagi. Lagi-lagi Ramos menjadi momok Atletico karena dia mencetak gol pembuka dan Yannick Carrasco berhasil menyamakan kedudukan. Pertandingan berakhir adu penalti, sayangnya Juanfran satu-satunya pemain yang gagal.

Momen tak terlupakan: Tensi pertandingan yang sangat tinggi, lima kartu kuning untuk Real Madrid dan dua untuk Atletico Madrid. Mungkin Atletico Madrid bertanya-tanya mengapa setiap mereka ke final selalu bertemu Real Madrid. Paling sulit dilupakan adalah wajah penyesalan Juanfran usai gagal penalti dan permintaan maaf mengharukan di depan tribun suporter Atletico.

6. Barcelona 3-1 Manchester United (2010/2011)

 

Narasi: Sir Alex Ferguson harusnya sudah belajar setelah kalah menyakitkan di Roma dengan lawan yang sama dua tahun sebelumnya. Sayangnya dia tidak belajar.

Lini tengah Barcelona saat itu benar-benar indah, memporak-porandakan Manchester United. Bisa dibilang pada saat inilah tiki-taka Barcelona yang paling baik, bahkan mungkin tiki-taka terbaik sepanjang masa.

Momen tak terlupakan: Lionel Messi menaklukkan  Edwin van der Sar dari jarak jauh membuat mereka kembali memimpin pertandingan dan kemudian di tutup dengan gol David Villa. Tetapi, momen paling luar biasa adalah ketika Andres Iniesta meminta bertukar jersey dengan Paul Scholes.

7. Dortmund 3-1 Juventus (1996/97)

 

Narasi: Bisa dibilang merupakan salah satu kejutan terbesar di final Liga Champions karena Juventus tim terbaik Eropa pada saat itu, tiga kali ke final berturut-turut.

Pada saat itu Borussia Dortmund memang memiliki tim yang solid, di lini belakang ada Sammer dan Kohler yang sangat kuat. Dikombinasikan dengan naluri predator Riedle dan aksi individu keren Chapuisat. Ini pertarungan dua manajer handal Ottmar Hitzfeld dan Lippi.

Momen tak terlupakan: Wajah baru, Lars Ricken yang datang dari bangku cadangan dan langsung mencetak gol lewat sepakan lob yang membuat kiper kawakan Angelo Perruzzi hanya termangu.

8. Barcelona 2-1 Arsenal (2005/2006)

 

Narasi: Saat itu Arsene Wenger banyak disebut-sebut sebagai pelatih terbaik era modern, tetapi sayangnya belum pernah memenangkan Liga Champions. Dan fakta yang lebih menyakitkan ini merupakan final pertama dan terakhir mereka paling tidak sampai musim 2018-2019, karena musim depan Arsenal absen. Karena itu tentu Wenger sangat benci dengan pahlawan Barca, Henrik Larsson.

Jens Lehman orang pertama yang diusir dari lapangan pada final ini karena melakukan pelanggaran keras pada Samuel Eto’o. Tetapi Arsenal bangkit dan memimpin lewat sundulan Sol Campbell.

Tampaknya memang Barcelona sudah ditakdirkan untuk memenangkan Liga Champions pada musim ini terutama ketika Lehman dikartu merah. Tetapi, mereka perlu memperkenalkan ikon Celtic, Larsson untuk memberi keberuntungan pada mereka. Bomber Swedia itu mengubah jalannya laga saat masuk di menit ke-61. Ia mengkreasi dua gol yang dicetaan Eto’o dan Juliano Belletti.

Momen tak terlupakan: Juliano Belletti merebahkan diri ke rumput lapangan Stade de France merasa tak percaya dia menjadi penentu kemenangan Barcelona.

9. Bayern Munich 2-1 Borussia Dortmund (2012/2013)

 

Narasi: Raksasa Bavaria jarang sekali mendapat rival yang konsisten sebagai saingan berat di Jerman dalam satu dekade terakhir, tetapi Dortmund dengan dipimpin Jurgen Klopp mampu mengganggu kenyamanan Bayern.

Dortmund mengesankan untuk disaksikan bersama Marco Reus, Robert Lewandowski dan Ilkay Gundogan. Final menjadi semakin panas karena transfer Mario Gotze ke Bayern Munich. Gotze kemudian tidak bermain di Wembley saat itu, tetapi langkahnya menambah kebencian antara dua klub ini.

Momen menentukan: Gol penebusan ‘dosa’ Arjen Robben sepertinya jadi momen paling penting setelah pemain asal Belanda tersebut (dan juga Mario Gomez) melewatkan beberapa peluang emas melawan Chelsea pada final sebelumnya. 

10. Real Madrid 4-1 Atletico Madrid (2013/14)

 

Narasi: Atletico Madrid hampir memainkan pertandingan yang sempurna setelah Diego Godin mencetak gol pembuka pada menit 36. Namun, Sergio Ramos memaksakan babak extra time setelah mencetak gol pada menit 93. Di babak tambahan itu Gareth Bale, Marcelo dan penalti Cristiano Ronaldo membuat Atletico Madrid pulang dengan tertunduk.

Momen menentukan: Gol sudulan Sergio Ramos memang bukan penentu kemenangan. Namun itulah momen krusial yang akhirnya mematahkan hati pemain dan suporter Atletico Madrid

Post By : JagoBola.com

Incoming search terms:

  • pahlawan final ligachampion
Agen Poker Terbaik

About jagoanbola

Check Also

CUPLIKAN GOL Italia U-20 1-3 Inggris U-20: Solanke Antar Singa Muda Ke Final Piala Dunia U-20

CUPLIKAN GOL Italia U-20 1-3 Inggris U-20: Solanke Antar Singa Muda Ke Final Piala Dunia ...