Home / News / Ekonomi / Ekonomi Melemah, 7.000 Buruh Banten Terkena PHK
Agen Casino Online

Ekonomi Melemah, 7.000 Buruh Banten Terkena PHK

Ekonomi Melemah, 7.000 Buruh Banten Terkena PHK

Ekonomi Melemah, 7.000 Buruh Banten Terkena PHK

JagoBola.com – Ancaman terjadinya pemutusan hubungan kerja yang selama ini menjadi momok bagi masyarakat, khususnya karyawan pabrik, kini menjadi kenyataan. Di Banten, sedikitnya 7.000 buruh terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) akibat terus melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Hudaya Latuconsina mengatakan, 7.000 buruh yang di-PHK tersebut berasal dari empat perusahaan, tiga berdomisili di Kabupaten Serang dan satu di Kabupaten Tangerang.

Dia menjelaskan, PHK terbesar terjadi di PT Cingluh Indonesia, perusahaan produsen sepatu, yakni sebanyak 2.500 karyawan.

“Saya tidak hapal empat perusahaan apa saja, yang saya tahu PT Cingluh yang sampai 2.500 karyawan di-PHK. Kami cek produktivitasnya memang menurun, dan sudah tidak bisa apa-apa,” ujar Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Hudaya Latuconsina, ditemui akhir pekan kemarin.

Dia mengatakan, dalam hal ini Disnaktertrans hanya menerima laporan terkait hal tersebut. Pihaknya akan mengambil tindakan jika kewajiban perusahaan terhadap karyawan tidak diselesaikan.

“Kami tidak bisa apa-apa, kecuali menerima kenyataan bahwa pengangguran tentu akan bertambah akibat PHK ini. Yang menjadi masalah adalah ketika kewajiban-kewajiban perusahaan terhadap karyawan yang kena PHK itu tidak dilaksanakan, itu yang kami monitor,” kata Hudaya.

Dijelaskannya, PHK terjadi akibat pelemahan ekonomi yang berdampak pada keberlangsungan produktivitas di beberapa perusahaan. Kata dia, sepanjang nilai dolar masih tinggi belanja pemerintah juga tidak efektif. Apalagi, kondisi eskpor sedang tidak seimbang dengan impor.

“Jika perusahaan menentukan sikap PHK, perusahaan harus mempunyai analisis sendiri dari berbagai macam yang memang bisa dipertanggungjawabkan,” ujarnya.

Sementara, Ketua Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Banten, Riden Hatam Azis, mengatakan, buruh menjadi korban atas kesalahan pemerintah dalam pelemahan ekonomi.

“PHK tidak harus terjadi karena pelemahan ekonomi. Apalagi bukan buruh yang salah,” katanya, kepada wartawan.

Dia menyesalkan PHK yang terjadi akibat pelemahan rupiah dan negara yang tidak hadir untuk memberikan solusi.

“Kalaupun PHK ini tidak bisa dihindari, buruh harus mendapatkan hak-haknya. Jangan sampai ketika mereka tidak bekerja, lalu harga kebutuhan kian mahal, mereka tidak bisa hidup,” ujarnya.

Saat ini pihaknya sedang memverifikasi perusahaan yang melakukan PHK. “Jangan sampai situasi pelemahan ekonomi dimanfaatkan oleh perusahaan nakal untuk melakukan pembenaran pemecatan sepihak dan mengganti karyawan tetap dengan karyawan kontrak atau outsorcing,” ucapnya.

Pengamat Ekonomi dari Universitas Negeri Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) Dahnil Anzar sebelumnya mengingatkan agar pemerintah mewaspadai dampak melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, karena bisa berimbas pasa ancaman pemutusan hubungan kerja di perusahaan-perusahaan.

Dia mengatakan, otoritas fiskal khususnya, yakni pemerintah tidak bisa “anggap enteng” dengan konstelasi rupiah saat ini, karena akan berimbas pada ancaman PHK, mengingat pabrik-pabrik tidak mampu lagi berproduksi. Sebab, lebih dari 75 persen bahan baku industri domestik Indonesia bergantung dengan impor.

“Pelemahan rupiah menyebabkan pukulan luar biasa bagi industri dalam negeri. Bahkan untuk mendorong ekspor pun sulit, padahal pelemahan rupiah bisa menjadi kesempatan baik untuk ekspansi ekspor,” kata Dahnil.

Akan tetapi, kata dia, mendorong untuk ekspor juga sulit mengingat produk-produk ekspor juga bergantung bahan baku dengan impor. Belum lagi harga komoditas seperti CPO mengalami penurunan drastis.

Di sisi lain, kata dia, aturan pelarangan impor mineral mentah juga menjadi hambatan ekspansi ekspor. Selain itu, kebijakan substitusi impor tidak pernah dimulai oleh pemerintah untuk menghindari terulang kondisi pelemahan rupiah seperti saat ini yang berdampak pada industri dalam negeri.

“Otoritas fiskal yakni pemerintah harus segera mendesain kebijakan jangka panjang berkaitan dengan kebergantungan Indonesia terhadap impor. Substitusi impor melalui penguatan sektor pertanian dan industri lokal yang berbasis bahan baku lokal harus dimulai untuk kepentingan jangka panjang,” kata Pengamat Kebijakan Publik Fakultas Ekonomi dan Bisnis Untirta tersebut.

Sementara itu dampak dari melemahnya nilai tukar rupiah, harga kedelai terus bergerak naik. Bahan baku utama pembuatan tahu dan tempe ini bahkan sudah tembus hingga Rp8.000 per kilogram. Hal tersebut mengakibatkan sejumlah perajin tahu dan tempe di Kampung Ranca Sadang, Kecamatan Jambe, Kabupaten Tangerang, mogok beroperasi.

Agen Poker Terbaik

About jagoanbola

Check Also

Intel Rilis Pentium Silver dan Celeron, Pesaing Snapdragon 845

Intel Rilis Pentium Silver dan Celeron, Pesaing Snapdragon 845 Qualcomm dan Microsoft bekerja sama membuat ...