Kamis , 11 Feb 2010 10:34 WIB
Nurdin Halid Ogah Digusur
Dibaca 131 kali dengan 0 komentar
jagobola News - Sebagai Ketua Umum PSSI, Nurdin Halid gagal total mengangkat prestasi
sepak bola Indonesia. Meski demikian, ia menutup pintu rapat-rapat pada
desakan mundur, termasuk jika hal itu muncul dalam sarasehan sepak bola
nasional yang digagas pemerintah, Maret mendatang.
”Kalau
sampai terjadi, itu berarti niat Presiden tidak murni lagi untuk sepak
bola,” kata Nurdin Halid kepada wartawan di Jakarta, Rabu (10/2/2010),
saat ditanya kemungkinan munculnya desakan agar dirinya mundur dari
jabatan Ketua Umum PSSI dalam sarasehan nasional yang rencananya
digelar di Kota Malang. ”Kalau sarasehan untuk mengganti, itu tidak
benar. Bukan kapasitasnya forum itu.”
Terpuruknya prestasi
sepak bola Indonesia membuat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono prihatin
sehingga meminta pers dan KONI untuk menyelenggarakan kongres sepak
bola. Belakangan istilah kongres diubah menjadi sarasehan sepak bola.
Sepanjang
kepengurusan Nurdin Halid, prestasi tim nasional, baik yunior maupun
senior, kian terpuruk. Terakhir, timnas gagal melaju ke putaran final
Piala Asia 2011, sementara timnas U-23 gagal total di SEA Games. Dalam
peringkat FIFA, Indonesia juga terus merosot. Terakhir tim Merah Putih
berada di peringkat ke-136, jauh di bawah negara-negara Asia Tenggara
lain, seperti Singapura (peringkat ke-120), Vietnam (ke-116), dan
Thailand (ke-98).
Pengelolaan kompetisi pun sangat buruk, yang ditandai dengan kasus suap
hingga kerusuhan yang melibatkan pemain, ofisial, dan suporter.
Terakhir, Supar (30), suporter Persik Kediri dari Desa Bangsongan,
Kecamatan Kayen Kidul, Kabupaten Kediri, tewas saat menyaksikan
pertandingan Persik menjamu Persib Bandung di Stadion Brawijaya,
Kediri, Selasa (9/2/2010).
Lepas tangan
Yang
juga menyedihkan, PSSI lepas tangan dengan insiden di Kediri. Menurut
Nurdin Halid, kondisi di stadion bukan domain PSSI. Saat dimintai
tanggapannya soal insiden Kediri, Nurdin Halid sempat menyatakan tidak
mengetahui adanya suporter Persik yang tewas.
”Soal itu jangan
tanya ke PSSI, mestinya kalian tanya ke panpel (panitia pelaksana
pertandingan). Itu bukan domain PSSI lagi,” ujar Nurdin. ”Soal penonton
meluber itu bukan urusan PSSI lagi, itu urusan panpel. Pasti kalian
akan tulis PSSI tidak mau tanggung jawab lagi, masalah itu akan
ditelusuri Komdis.”
Senada dengan Nurdin Halid, Ketua PT Liga
Indonesia Andi Darussalam Tabussala juga seolah lepas tangan dengan
kejadian di Kediri. Andi terkesan menyalahkan panpel dan pengawas
pertandingan atas terjadinya insiden Kediri.
”Seharusnya tidak
perlu ada penurunan harga tiket karena dalam partai big match seperti
itu pasti tanpa harga tiket dipotong pun penonton akan datang. Itu
tidak rasional, akhirnya penonton tidak tertampung,” kata Andi.
Saat
ditanya apakah pihaknya lalai karena mengizinkan laga tersebut terus
berlangsung karena menyalahi aturan menyusul membeludaknya penonton,
Andi menyatakan bahwa liga telah memberikan petunjuk atau semacam
manual jika ada kejadian seperti di Stadion Brawijaya.
Rusak parah
Dari
Kediri dilaporkan, Stadion Brawijaya rusak parah pascalaga Persik
melawan Persib. Kerugian diperkirakan lebih dari Rp 200 juta. Ketua
Panitia Penyelenggara Pertandingan Persik Kediri Bambang Sumarjono
kemarin mengatakan, sedikitnya ada 20 pagar besi pembatas antara
lapangan dan tribune penonton yang roboh.
Rusaknya pagar
disebabkan membeludaknya penonton yang melebihi daya tampung tribune.
Berdasarkan hasil penjualan tiket, jumlah penonton lebih dari 22.000
orang, sedangkan kapasitas stadion hanya 15.000 penonton. Ini terjadi
setelah panitia memberikan potongan harga tiket sampai dengan 50 persen
dalam rangka menyambut perayaan hari ulang tahun Persikmania yang
kesembilan pada 8 Febuari 2010.
Kepala Kepolisian Resor Kota
Kediri Ajun Komisaris Besar Rastra Gunawan mengatakan bahwa panitia
harus membenahi sistem penjualan tiket dan pengaturan penonton supaya
kejadian buruk tidak terulang. Ia meminta agar tanggung jawab keamanan
tidak hanya dibebankan kepada polisi karena panitia juga harus ikut
memikirkannya. ”Jangan hanya memikirkan bagaimana tiket terjual habis,
tetapi juga pikirkan dampaknya,” ujarnya.
[kompas.com/jagobola]

