Kamis , 19 Nov 2009 12:29 WIB
Garuda Muda, Lebih Bersih Ketimbang Seniornya

Dibaca 383 kali dengan 0 komentar
Get subscribers

Komentar Pembaca:

Terbaru:
Lesunya Pasar Pemain
Juara Dunia Baru, Fakta Sejarah Memihak Belanda
3 Juara Dunia di Semifinal Versus Juara Eropa ?
Piala Dunia 2010 Milik Amerika Latin
Argentina Menawan, Perancis Segera Terlempar
Grup G Paling Sulit, Grup H Spanyol Tak Ada Lawan
Grup F: Jatahnya Italia dan Paraguay

Terfavorit:
Scudetto Hanya Milik 3 Tim
"Pahlawan" Baru Sepakbola Indonesia Bernama Hendri Mulyadi

jagobola Ulasan - Dalam waktu hampir berdekatan, timnas Indonesia menjalani dua kompetisi yang cukup bergengsi di daratan Asia. TImnas U-19 menjalani laga penyisihan grup guna mendapatkan dua tiket ke piala asia U-19. Dan seperti diketahui, dengan dua kali kekalahan sekali seri, dan dua kali kemenangan, timnas Indonesia berada di posisi ketiga dan tidak lolos ke piala Asia U-19.

Sementara timnas senior juga hanya mampu bermain seri 1-1 dengan Kuwait hingga akhirnya tetap menjadi juru kunci grup dengan 3 poin. Dua lawan berat menunggu yaitu Oman dan Australia. Melawan Oman di gelora bung Karno, Indonesia mungkin masih punya peluang menang, namun menghadapai Australia di kandang lawan dan mungkin diperkuat pemain-pemain terbaik yang bermain di liga Eropa, mungkinsulit mengharap mukjizat terjadi.

Timnas U-19 memang gagal, namun ada kredit point yang pantas diberikan kepada mereka. Tima yang berlaga di liga yunior Uruguay tersebut masih berusia belia dibandingkan kontestan lain.

Dari segi semangat bertanding dan keberanian, tampak jelas mereka punya kelas yang berbeda ketimbang karakter yang ditunjukkan seniornya yang tampak benar karakter liga uruguay lebih dominan ketimbang karakter timnas senior dimana tampak benar kebiasaan buruk pemain melakukan pelanggaran dan berbuah kartu merah bagi Ismed Sofyan adalah buah didikan dalam negeri yang seharusnya segera dibenahi


Anak-anak muda yang sedang berguru di Uruguay memiliki sebuah hal positif yang berbeda dalam hal yang satu itu. Mereka lebih bersih dan berusaha bermain dengan cara fair dan itu semuanya memang sikap bermain sepakbola yang harus mulai ditanamkan  sejak kecil.

Jika banyak yang tidak setuju dengan pengiriman anak-anak muda ini ke Uruguay karena memboroskan uang dan hasilnya tidak seberapa, saya justru menyoroti sikap tim-tim liga super juga regulasi PSSI yang justru memberi ruang sangat besar pada pemain-pemain asing merumput di tanah air. Sebagian digunakan sebagai kendaraaan politik oleh pejabat setempat dengan alasan menghibur masyarakat padahal sebenarnya adalah sedang memperbodoh para pemain Indonesia. Hasilnya? sudah uang rakyat ludes, prestasi jalan ditempat.

Saya orang pertama yang akan mendukung seandainya liga super dikembalikan ke hakikat utamanya. Cukup 2 pemain di masing-masing tim. Dengan kualitas pemain yang benar-benar kelas A. Artinya pemain tidak sekedar bermain di level kelas dua liga asia maupun eropa.

Kedua, Daripada menggaji orang asing, saya lebih senang menggaji anak-anak muda yang asli Indonesia ini berguru di Uruguay. Toh kita cuma perlu minimal 11 orang dengan kualitas dunia untuk membentuk timnas yang cukup kuat. Dan agar tidak terkontaminasi dengan kondisi lokal yang serba payah, biarkan 11 orang ini melanglang buana keluar negeri atas "subsidi" negara. Syaratnya, mereka harus punya jiwa nasionalisme yang tinggi ketika memperkuat negara.

Jangan biarkan mereka akhirnya kembali ke liga domestik dan apa yang telah dibina selama ini menjadi mubazir



E-mail
Komentar Anda
Kode